Bermain Bersama Hiu Paus

Nama Kaimana sejatinya sudah tersohor sejak lama. Tepatnya, sejak lagu berjudul “Senja di Kaimana” yang dibawakan penyanyi Alfian, populer di era 1970-an. Namun, popularitas tersebut, pada kenyataannya hanya sebatas pada lagu saja. Masyarakat masih belum paham di mana letak Kaimana sesungguhnya.

Baru setelah Kaimana “merdeka” menjadi kabupaten sendiri, daerah tersebut mulai menggeliat memperlihatkan pesonanya. Selain pesona senja di petang hari yang memang terlihat sangat indah, Kaimana memiliki pesona lain, yaitu biota lautnya yang sangat beragam.

Di antara biota laut yang beragam itu, ada biota laut hiu paus (Rhincodon typus) yang statusnya saat ini dilindungi melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No.18 Tahun 2013 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Hiu Paus.

hiu paus (Rhincodon typus) di perairan Hiu Paus di perairan Teluk Cendrawasih, Kabupaten Nabire, Papua Barat. Foto : Conservation International Indonesia
hiu paus (Rhincodon typus) di perairan Hiu Paus di perairan Teluk Cendrawasih, Kabupaten Nabire, Papua Barat. Foto : Conservation International Indonesia
Selain di Kaimana, ikan terbesar di dunia itu juga ada di perairan di Teluk Cendrawasih (Kabupaten Nabire, Papua Barat), Sabang (Aceh), Situbondo (Jawa Timur), dan Nusa Tenggara. Namun, meski ada di Kaimana, untuk bisa melihat hiu paus, dibutuhkan perjuangan ekstra keras. Itu karena, ikan tersebut hanya akan muncul jika ada makanan yang menjadi kegemarannya.

Apa itu makanan kegemarannya? Itu adalah ikan puri (anchovy) atau ikan teri. Ikan tersebut wujudnya kecil-kecil dan bisa menjadi santapan enak bagi hiu paus. Kebiasaan tersebut cukup mengherankan bagi siapapun yang melihat hiu paus. Hal itu, karena fisiknya yang besar dengan rerata bisa mencapai panjang 6 meter lebih dan bahkan bisa mencapai 18 meter.

Pengalaman seperti itu yang dirasakan Mongabay Indonesia saat mendapat kesempatan untuk berjumpa langsung dengan ikan penuh kharisma itu di perairan Teluk Triton, Kabupaten Kaimana, Papua Barat, pekan lalu.

Di Bawah Bagan

Petualangan untuk berjumpa hiu paus dimulai pada Jumat (13/05/2016). Petulangan dimulai dari perairan sekitar Pulau Namatota, pulau yang menjadi tempat Mongabay Indonesia dan rombongan dari Conservation International (CI) Indonesia-Kaimana untuk bermalam. Perahu cepat yang membawa kami terus melaju dengan kecepatan penuh.

Tak menunggu lama. Sekitar 25 menit kemudian, kami sudah tiba di lokasi perairan yang menjadi tempat munculnya hiu paus. Erana, demikian warga lokal menyebut nama perairan yang biasa didatangi para ikan raksasa tersebut. Di kawasan tersebut, banyak terdapat bagan-bagan yang biasa menjadi tempat mencari ikan secara menetap untuk nelayan yang berdatangan dari berbagai provinsi di luar Papua.

Pagi itu, rombongan memutuskan untuk mendatangi bagan milik nelayan asal Bugis atau Makassar, Sulawesi Selatan. Bagan yang bentuknya persegi panjang itu, di setiap sisinya terdapat jaring yang berfungsi untuk menyaring ikan. Di dalam jaring tersebut, disimpan umpan-umpan, salah satunya adalah ikan puri yang menjadi kegemaran hiu paus.

Meski saat rombongan datang, disebutkan bahwa ikan puri sedang sulit didapat, namun kami semua nekad karena sama-sama ingin melihat hiu paus. Saat perahu cepat berada di sekitar bagan, kami semua merasa was-was karena khawatir tidak bisa mendapatkan momen yang ditunggu tersebut.

Hiu paus (Rhincodon typus) di perairan Hiu Paus di perairan Teluk Cendrawasih, Kabupaten Nabire, Papua Barat. Foto : Conservation International Indonesia
Hiu paus (Rhincodon typus) di perairan Hiu Paus di perairan Teluk Cendrawasih, Kabupaten Nabire, Papua Barat. Foto : Conservation International Indonesia
Namun, ternyata itu salah. Berselang sekitar 10 menit kemudian, apa yang kami tunggu akhirnya mulai menampakkan diri. Hiu paus yang sudah kami bayangkan di benak masing-masing akhirnya terlihat jelas di samping perahu. Wujudnya yang raksasa, membuat semua yang melihat langsung terdiam.

Mongabay Indonesia sendiri merasakan kekaguman luar biasa begitu bisa melihat secara langsung bermain bersama hiu paus. Meski ikan besar tersebut tak muncul ke atas permukaan air karena ketiadaan umpan ikan puri, namun wujudnya sudah nampak jelas ada di bawah perahu. Diperkirakan, jaraknya hanya sekitar 2 meter di bawah perahu.

Tak ada satupun di antara kami yang berdiam diri. Semuanya sibuk dengan gawainya masing-masing untuk mengabadikan momenbermain bersama hiu paus. Dan benar saja, kemunculan ikan tersebut tak berlangsung lama. Hanya 10 menit setelahnya, ikan hiu paus benar-benar menghilang dari sekitar bagan. Tak terlihat sama sekali.

Bagi Anda yang belum pernah tahu, hiu paus (whaleshark) adalah ikan terbesar di dunia yang mengonsumsi plankton dan ikan-ikan kecil sebagai makanannya. Dinamai hiu paus karena ukurannya yang besar seperti paus dan kebiasaannya menyaring makanan. Berdasarkan data dari International Union for Conservation of Nature (IUCN), hiu paus dikategorikan termasuk hewan yang rentan (vulnerable) punah. Hiu paus dapat dijumpai di perairan laut tropis dan perairan beriklim hangat.

Diperkirakan Hiu Paus muda dengan ukuran antara 60 cm hingga 3 meter menetap di perairan sangat dalam. Kebiasaan tersebut, karena mereka sadar terhadap ancaman predator. Pada saat badannya cukup besar untuk menakut-nakuti predator potensial, mereka muncul dari kedalaman ke perairan dangkal untuk mencari makan yaitu ikan kecil, plankton dan vertebrata kecil lainnya.

Ping Mahmud, Communication Officer Conservation International (CI) Indonesia-Kaimana, yang mendampingi kami, selalu menjelaskan dengan rinci bagaimana karakter biota laut langka itu. Dia menyebut bahwa hiu paus sangat jinak dan bisa menjadi objek wisata yang menarik dengan cara melakukan penyelaman bersama.

“Namun, jika ingin menyelam bersama hiu paus, siapapun harus menaati aturan. Hiu paus jangan disentuh secara fisik. Penyelam harus menjaga jarak dua meter dari badan dan tiga meter dari ekor. Kemudian jangan bersuara keras dan memotret dengan menggunakan cahaya,” papar dia.

Share This: